Rabu, 16 Juni 2010

BACAAN ANAK


BACAAN SUNDA ANAK-ANAK NAN MELAMPAUI ZAMAN*

Penerbitan buku bacaan suatu bangsa dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan, begitu juga halnya penerbitan bacaan anak berbahasa Sunda. Menurut Christantiowati (1996), selama kurun waktu 1908 – 1945, bacaan anak terbit dalam berbagai bahasa, yaitu bahasa Indonesia (Melayu), bahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Sunda. Tahun 1908 ditetapkan sebagai awal pendirian Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) oleh pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1945 ditetapkan sebagai batas akhir karena pada tahun itulah Jepang mengakhiri masa kekuasaannya di Indonesia.

Dalam kurun waktu 1908 – 1945, tercatat tiga orang penulis bacaan anak berbahasa Sunda yang cukup produktif menulis buku. Ketiga penulis tersebut adalah D.K. Ardiwinata, Satjadibrata, dan Samsoedi.
D.K. Ardiwinata (1866-1974), dikenal sebagai pengarang roman pertama dalam bahasa Sunda dengan judul Baruang ka nu Ngarora (Racun bagi Para Pemuda) yang diterbitkan pada tahun 1931. Jauh sebelum itu, pada tahun 1910 D.K. Ardiwinata bersama dengan M. Saleh melalui penerbit Volkslectuur menerbitkan buku bacaan anak dalam bahasa Sunda dengan judul Dongeng-dongeng Soenda I . Masih pada tahun 1910, D.K. Ardiwinata dengan penerbit yang sama menerbitkan Dongeng-dongeng Soenda II. Setahun kemudian, pada tahun 1911 D.K. Ardiwinata bersama Wadiwasta menerjemahkan buku bacaan asing ke dalam bahasa Sunda dengan judul Pitoewah Poepoerieun: Roepa-roepa Tjarita (Nasihat yang Dapat Dimanfaatkan: Rupa-rupa Cerita), buku tersebut diterbitkan oleh Kolf & Co., Batavia. Pada tahun 1912, D.K. Ardiwinata melalui penerbit Volkslectuur menerbitkan Tjarita Djalma Paminggatan (Cerita Orang yang Suka Kabur). Lima tahun kemudian, pada tahun 1917, D.K. Ardiwinata melalui penerbit Drukkerij, Batavia menerbitkan Dongeng Warna-warna.Tahun 1921, D.K. Ardiwinata bersama dengan Prawirawinata melalui Balai Poestaka menerbitkan Tjarita Si Alpi (Cerita Si Alpi). Pada tahun 1922, D.K. Ardiwinata bersama R. Memed melalui penerbit Weltevreden menerbitkan bacaan anak berjudul Dongeng Paloekna (Dongeng Pilihan).

Satjadibrata (1886-1970) sebagai penulis bacaan anak selama kurun waktu 1908 – 1945, telah menerbitkan sebanyak delapan judul buku. Pada tahun 1931, Satjadibrata melalui Balai Poestaka menerbitkan Sakadang Peutjang (Sang Kancil) dan Lalakon Si Tjongtjorang (saduran dari Pinokio). Satu tahun kemudian, pada tahun 1932, Satjadibrata melalui Balai Poestaka menerbitkan tiga judul buku; Wawatjan Sastra-Sastri Cerita Sastra-Sastri), Tiloe Dongeng Lenjepaneun (Tiga Dongeng untuk Dihayati ), dan Boedak Timoe (Anak yang Ditemukan) - berupa buku saduran. Buku Silih Tipoe (Saling Tipu) karya Satjadibrata diterbitkan Balai Poestaka pada tahun 1933. Pandoe Panilih (Pandu Pilihan) dan Sari Poestaka (Sari Pustaka) karya Satjadibrata diterbitkan Balai Poestaka tahun 1936.

Samsoedi (1899-1987) merupakan pengarang Sunda yang mengkhususkan menulis cerita anak-anak. Buku-buku cerita yang telah diterbitkannya adalah; Tjarita Boedak Minggat ( Kisah Anak Minggat), Tjarita Si Diroen (Kisah Si Dirun), Boedak Teuneung (Anak Pemberani), ketiganya diterbitkan Balai Poestaka pada tahun 1930. Tahun 1931, Samsoedi melalui penerbit Balai Poestaka menerbitkan Djatining Sobat (sahabat Sejati) dan Babalik Pikir (Insyaf). Buku terbitan terakhir Samsoedi pada kurun waktu 1908 – 1945 adalah Soerat Wasiat (Surat Wasiat) yang diterbitkan Balai Poestaka tahun 1935. Atas jasa-jasanya, nama Samsoedi sejak tahun 1993 oleh Yayasan Kebudayaan Rancage diabadikan sebagai nama hadiah penulisan buku untuk anak-anak dalam bahasa Sunda, yaitu Hadiah Samsudi.

Ketiga penulis tersebut, telah memberikan sumbangan yang berharga pada sejarah bacaan anak di Indonesia, khususnya bacaan anak berbahasa Sunda. Beberapa karya yang telah diterbitkan masih banyak mendapat sambutan dan tanggapan pembaca saat ini. Karya-karya ketiga penulis tersebut merupakan karya-karya yang sangat berarti – karya-karya yang mampu hidup jauh lebih lama dari penulisnya. (Taufik Ampera, M. Hum. Dosen Program Studi Sastra Sunda UNPAD).


· Dimuat pada kolom LITERASI (KAMPUS)
Pikiran Rakyat, 16 Oktober 2008

Tidak ada komentar: