Sabtu, 19 Juni 2010

SASTRA ANAK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Oleh: Taufik Ampera


I.Pendahuluan


Tidak dapat disangkal lagi, bahwa sastra anak memiliki sumbangan yang besar bagi perkembangan kepribadian, kecerdasan, dan pengalaman anak dalam proses menuju kedewasaaan. Kematangan kepribadian, kecerdasan, dan luasnya wawasan anak dibentuk dan terbentuk melalui lingkungan di sekitarnya, termasuk lingkungan kegiatan bersasatra yang berlangsung pada kehidupan anak, baik sastra lisan yang diperoleh anak lewat saluran tuturan maupun sastra tulis yang diperoleh lewat bacaan.
Sastra sebagai sebuah karya hasil pengolahan pikiran dan perasaan seorang pengarang diyakini mampu dipergunakan sebagai media untuk menanam, memupuk, mengembangkan, dan bahkan melestarikan nilai-nilai yang diyakini baik dan berlaku pada lingkungan keluarga, masyrakat, dan bangsa. Karena adanya pewarisan nilai-nilai itulah eksistensi suatu masyarakat dan bangsa dapat dipertahankan.

Sebagai sebuah tradisi dalam keluarga, penanaman nilai-nilai pada anak sudah berlangsung sejak anak masih dalam kandungan. Demikian pula saat anak belum mampu berbicara dan belum dapat membaca penanaman nilai-nilai pada anak semakin nyata. Nyanyian-nyanyian yang biasa didendangkan seorang ibu untuk membujuk si buah hati agar segera tidur atau sekedar membahagiakan hatinya, pada hakikatnya adalah bernilai kesastraan dan sekaligus mengandung nilai yang besar andilnya bagi perkembangan kejiwaan anak, misalnya nilai kasih sayang dan kejujuran.
Sumbangan sastra anak bagi pengembangan kejiwaan anak telah banyak disinggung oleh para ahli, diantaranya Saxby mengemukakan bahwa kontribusi sastra anak membentang dari dukungan terhadap pertumbuhan berbagai pengalaman (rasa, emosi, bahasa), personal (kognitif, sosial, etis, spiritual) eksplorasi dan penemuan, namun juga petualangan dalam kenikmatan (Saxby dan Winch, 1991: 5-10). Sementara itu, Huck dkk. (1987: 6-14) mengungkapkan bahwa nilai sastra anak secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu nilai personal (personal values) dan nilai pendidikan (educational values). Dengan demikian, tidak dapat diragukan lagi bahwa sastra anak sangat mewarnai kehidupan anak. Karena itu, biarkan anak melakukan penjelajahan pada sastra yang dimilikinya. Lewat sastra, anak berkesempatan untuk berfantasi mengarungi dunianya. Biarkan dan beri kesempatan anak-anak itu berkembang dan mengembangkan fantasinya (Saxby dan Winch 1991). Anak memiliki pilihannya sendiri, Norton mengungkapkan, bahwa ketika seorang anak mendapatkan kesenangan melalui buku, dia akan menentukan sikapnya untuk lebih banyak menaruh perhatian pada buku bacaan (1983:5), termasuk di dalamnya sastra anak.
Mengingat besarnya sumbangan sastra anak untuk perkembangan kejiwaan dan kecerdasan berpikir anak, maka tulisan ini akan mengungkapkan aspek lain yang terkandung dalam sastra anak yang ada kaitannya dengan pembentukan kecerdasan berpikir anak, sehingga anak mampu menghadapi persoalan hidupnya dengan pikiran yang matang. Aspek yang akan dikaji adalah materi matematika (seni berhitung) yang terdapat dalam nyanyian dan cerita anak.

II. Sastra Anak
2.1 Pengertian dan Karakteristik Sastra Anak
Adanya istilah sastra anak (children’s literature) menunjukkan eksistensi tersendiri dari karya fiksi untuk anak, meskipun istilah ini kurang populer dibandingkan dengan istilah bacaan anak (children’s reading). Children’s literature. Writings designed to appeal to children – either to be read to them or by them including fiction,poetry, biography, and history.Children’s literature also includes riddles, precepts, fables, myths, and folk poems and folktales based on spoken tradition …(Sastra anak adalah karya tulis yang dibuat untuk menarik anak-anak apakah itu untuk dibacakan kepada mereka ataupun untuk dibaca oleh mereka sendiri – berupa fiksi, puisi, biografi, dan kisah sejarah. Yang termasuk juga sastra anak adalah teka-teki, pelajaran, fabel, legenda, mitos, dan syair atau cerita rakyat yang berasal dari sastra lisan ..… (Microsoft, 1997: entri Children’s Literature dalam Trimansyah, 1999; 27).

Untuk lebih menegaskan pemahaman tentang sastra anak, berikut ini akan dikemukakan pandangan Endraswara (2005:2007), sastra anak pada dasarnya merupakan ”wajah sastra” yang fokus utamanya demi perkembangan anak. Di dalamnya, mencerminkan liku-liku kehidupan yang dapat dipahami oleh anak, melukiskan perasaan anak, dan menggambarkan pemikiran-pemikiran anak. Lebih lanjut Endaswara mengemukakan, sastra anak hendaknya memiliki nilai-nilai tertentu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak. Yang membedakan sastra anak dengan sastra yang lain adalah muatannya. Sastra anak tentu saja perlu memuat rasa kesenangan, kegembiraan, kenikmatan, cita-cita, dan petualangan anak (2005: 2007). Pendek kata sastra anak dapat berkisah tentang apa saja yang menyangkut masalah kehidupan, sehingga mampu memberikan informasi dan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan itu sendiri bagi pembacanya. Huck dkk. (1987: 6) menekankan bahwa: buku anak, sastra anak, adalah buku yang menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat penceritaan.

Sastra anak sebagai sastra yang menyajikan dunia anak, memiliki karakter yang berbeda dengan sastra lainnya. Menurut Davis (Endaswara, 2005: 212) ada empat sifat sastra anak, yakni: (1) tradisional, yaitu tumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu dalam bentuk mitologi, fabel, dongeng, legenda, dan kisah kepahlawanan yang romantis; (2) idealistis, yaitu sastra yang memuat nilai-nilai universal, dalam arti didasarkan hal-hal terbaik penulis zaman dahulu dan kini; (3) populer, yaitu sastra yang berisi hiburan, yang menyenangkan anak-anak; (4) teoritis, yaitu yang dikonsumsikan kepada anak-anak dengan bimbingan orang dewasa serta penulisnya dikerjakan oleh orang dewasa pula. Menurut Sarumpaet (1976: 23) ciri-ciri sastra anak ada tiga, yakni: (1) berisi sejumlah pantangan, berarti hanya hal-hal tertentu saja yang boleh diberikan; (2) penyajian secara langsung, kisah yang ditampilkan memberikan uraian secara langsung, tidak berkepanjangan; (3) memiliki fungsi terapan, yakni memberikan pesan dan ajaran kepada anak-anak.


2.2 Genre Sastra Anak
Menurut Lukens, genre dapat dipahami sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat karakteristik umum (Nurgiyantoro. 2005: 13). Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi, dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis lagi (Nurgiyantoro. 2005: 14-15).
Sehubungan dengan keterbatasan dalam penyajian tulisan ini, genre sastra anak tidak akan dibahas secara mendalam, namun hanya akan disajikan genre sastra yang ada kaitannya dengan data yang dikaji, yaitu puisi dan fabel. Genre puisi anak dapat berwujud puisi-puisi lirik tembang anak tradisional, lirik tembang-tembang ninabobo, puisi naratif, dan puisi personal. Puisi-puisi lirik tembang anak tradisional atau lirik tembang-tembang ninabobo adalah puisi sebagaimana yang diucapkan atau dinyanyikan si ibu sewaktu akan menidurkan anak, membujuk anak agar tidak rewel, atau membuat anak senang (Nurgiyantoro. 2005: 27).
Data lain yang dijadikan sebagai objek kajian utama dalam tulisan ini adalah cerita fabel. Fabel (Fable) adalah cerita binatang yang dimaksudkan sebagai personifikasi karakter manusia. Binatang-binatang yang dijadikan tokoh cerita dapat berbicara, bersikap, dan berperilaku sebagaimana halnya manusia. Fabel termasuk ke dalam sastra tradisional, berasal dari cerita yang telah mentradisi (Nurgiyantoro. 2005: 22).


III. Sastra Anak sebagai Media Pembelajaran Matematika
3.1 Materi Matematika dalam Sastra Anak

Kegiatan bersastra tidak hanya menumbuhkan kecintaan pada sastra, melainkan dapat pula mengembangkan kecerdasan matematika anak-anak. Tidak sedikit sastra anak berisi tentang konsep pembelajaran matematika. Sastra anak sebagai sebuah karya cipta dapat membantu anak dalam mengenal matematika pada tingkat usia dini. Sastra anak dapat dijadikan sebagai media pembuka atau untuk memancing minat anak dalam mempelajari dan menggunakan bilangan dalam pemecahan masalah. Pembelajaran matematika melalui media sastra dapat membantu menciptakan rasa suka dan suasana berpikir cerdas pada anak-anak. Melalui sastra, anak-anak secara tidak langsung diperkenalkan dan dibekali kecerdasan matematika, sehingga pada akhirnya anak-anak akan dapat merefleksikan kebiasaan berpikir dan bertindak secara matang.
Lagu Dua Mata Saya berikut ini bukan hanya sebuah lagu yang tanpa makna dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan bilangan. Lagu tersebut berisi tentang pengenalan bilangan 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) dan lambangnya. Melalui senandung lagu tersebut, anak dituntut dapat membilang atau menghitung banyak benda.

Dua mata saya
hidung saya Satu
dua kaki saya
pakai sepatu baru.

Dua tangan saya
yang kiri dan kanan
satu mulut saya
tidak berhenti makan
Isi pokok lagu tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama, anak mampu menyebutkan nama-nama bagian tubuh, seperti mata, hidung, kaki, tangan, dan mulut. Berawal dari bagian-bagian tubuh yang ada dalam lagu tersebut, pada akhirnya anak akan mengembangkan kemampuannya untuk mengenal lebih banyak dan lebih lengkap bagian-bagian tubuh lainnya. Maka, lagu Dua Mata Saya sebagai lagu yang cukup sederhana ternyata dapat memberikan wawasan yang luas bagi anak dalam mengenal dirinya sendiri.
Kedua, anak mampu mengenal bilangan dari urutan 1 (satu) hingga 5 (lima), seperti terungkap pada kata-kata berikut; /hidung saya satu/, /mulut saya satu/, /mata saya dua/, dan /kaki saya dua/. Berawal dari pengenalan dua bilangan tersebut, kemampuan anak akan berkembang pada kemampuan membilang banyaknya bagian tubuh hingga pada bilangan ke-5 (lima) yang terdapat pada masing-masing jari kaki kiri dan kanan serta jari tangan kiri dan kanan. Pengenalan bagian tubuh dan banyaknya benda dapat dituliskan dalam sebuah tabel dengan menyertakan setiap lambang bilangan, seperti tabel berikut ini
Bagian Tubuh Banyaknya Lambang Bilangan

mata dua 2
hidung satu 1
mulut satu 1
kaki dua 2
jari kaki kanan lima 5
jari kaki kiri lima 5
tangan dua 2
jari tangan kanan lima 5
jari tangan kiri lima 5
Tabel (1) Banyaknya Bagian Tubuh


Ketiga, anak mampu mengurutkan bilangan cacah dari 0 sampai dengan 10. Pada tahap awal, anak belajar mengurutkan bilangan cacah dari 0 sampai dengan 5 sesuai dengan lambang bilangan yang terdapat pada tabel di atas. Pada tahap berikutnya, anak belajar untuk mengurutkan bilangan cacah dari 6 sampai dengan 10 sebagai hasil pengembangan proses belajar pengenalan lambang bilangan. Indikator pencapaian hasil belajar pada tahap ini adalah, seorang anak mampu mengurutkan sekelompok bilangan yang berpola teratur dari yang terkecil hingga yang terbesar.

♣ ♣♣ ♣♣♣ ♣♣♣♣ ♣♣♣♣♣
1 2 3 4 5

Keempat, anak bertambah wawasannya dengan mengenal angka yang lebih banyak jumlahnya, yaitu angka sepuluh (10) sebagai hasil penjumlahan dari 5 + 5 (lima jari tangan kiri ditambah lima jari tangan kanan). Pada tahap ini, anak sudah memiliki kemampuan dalam penjumlahan serta telah mengenal simbol (+) atau tanda tambah.

jari tangan kiri + jari tangan kanan = 10
5 + 5 = 10

Mengamati pola penjumlahan tersebut, proses pembelajaran matematika melalui kegiatan bersastra dengan cara melantunkan nyanyian anak pada tahap berikutnya, anak dibekali dengan pengayaan konsep membandingkan dua kumpulan benda. Indikantor pencapaian dari proses pembelajaran pada bagian ini adalah anak dapat membandingkan dua kumpulan benda. Misalnya,

jari tangan kiri Haya berjumlah lima,
begitu pula jari tangan kiri Gandes berjumlah lima,
jari tangan kiri siapa yang lebih banyak?

jari tangan Haya = jari tangan Gandes

Jari tangan kiri Haya sama banyak dengan jari tangan kiri Gandes


Di samping sastra anak dalam bentuk nyanyian, tidak sedikit cerita dongeng di dalamnya memuat materi matematika. Salah satu diantaranya adalah cerita fabel yang berjudul Gagak Hayang Jadi Merak (Gagak Ingin Menjadi Merak). Melalui cerita berikut ini, orang tua dapat memanfaatkan dongeng sebagai bahan pembelajaran matematika yang menyenangkan dalam menyampaikan pokok bahasan yang sama, yaitu membandingkan dua kumpulan benda.

Kocapkeun di hiji leuweung geledegan, aya tangkal kiara pahareup-hareup. Nu hiji panonoban gagak, nu hiji deui panonoban merak (Tamsyah, 1996: 126).

”Tersebutlah di suatu hutan belantara, terdapat pohon beringin yang tumbuh berhadapan. Pohon yang satu tempat bersarangnya burung gagak, satu pohon lainnya tempat bersarangnya burung merak.”

Alinea pembuka cerita fabel tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran matematika. Melalui fabel tersebut, seorang anak selain mendapatkan pengalaman bersastra juga dapat memperoleh kemampuan membandingkan dua kumpulan benda melalui penyelesaian soal cerita, seperti berikut:

♣♣ = ♠♠

sama banyak dengan



2 = 2

dua buah pohon sama banyak
dengan dua ekor burung


Lagu di bawah ini menunjukkan perbedaan konsep berhitung dengan lagu di atas. Lagu yang tidak kalah populer dengan lagu-lagu lainnya, mengenalkan pada anak cara membaca dan menggunakan simbol pengurangan (-). Indikator dari proses pembelajaran ini adalah anak dapat membaca dan menggunakan simbol (-) dan simbol (=) dalam pengerjaan mengitung bilangan.

Tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turun sepuluh,
mati satu tinggal sembilan,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turun sembilan,
mati satu tinggal delapan,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turun delapan,
mati satu tinggalah tujuh,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turunnya tujuh,
mati satu tinggalah enam,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turunnya enam,
mati satu tinggalah lima,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turunnya lima,
mati satu tinggalah empat,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turunnya empat,
mati satu tinggalah tiga,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turunnya tiga,
mati satu tinggalah dua,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turunnya dua,
mati satu tinggalah satu,
tek kotek-kotek-kotek,
anak ayam turunnya satu,
mati satu tinggal induknya,

Lagu anak di atas merupakan bentuk pengurangan mulai dari bilangan 10 hingga bilangan 0 (tidak tersisa). Anak ayam turun sepuluh, dari sepuluh ekor anak ayam ternyata mati satu hingga anak ayam itu tinggal sembilan. Dari sembilan ekor anak ayam yang masih hidup ternyata satu ekor mati hingga anak ayam itu tersisa delapan ekor, dan seterusnya. Satu ekor yang tersisa pun akhirnya mati hingga tinggal induknya. Maka musnahlah kesepuluh ekor anak ayam tersebut (tidak ada seekor pun anak ayam yang masih hidup atau sama dengan kosong), yang tersisa tinggal induknya. Syair yang cukup sederhana, namun sangat bermakna itu dapat diterjemahkan ke dalam konsep berhitung sebagai berikut.

10 – 1 = 9 sepuluh dikurangi satu sama dengan sembilan.
9 – 1 = 8 sembilan dikurangi satu sama dengan delapan.
8 – 1 = 7 delapan dikurangi satu sama dengan tujuh.
7 – 1 = 6 tujuh dikurangi satu sama dengan enam.
6 – 1 = 5 enam dikurangi satu sama dengan lima.
5 – 1 = 4 lima dikurangi satu sama dengan empat.
4 – 1 = 3 empat dikurangi satu sama dengan tiga.
3 – 1 = 2 tiga dikurangi satu sama dengan dua.
2 – 1 = 1 dua dikurangi satu sama dengan satu.
1 – 1 = 0 satu dikurangi satu sama dengan kosong.

Pola pengurangan seperti pada syair lagu anak berbahasa Indonesia tersebut, ditemukan pula dalam versi bahasa Sunda. Dalam khazanah sastra Sunda, masyarakat Sunda mengenal mantra. Mantra termasuk ke dalam puisi tradisional Sunda. Puisi mantra adalah puisi lisan yang sarat dengan rima dan irama yang mengandung kekuatan gaib dan bertujuan untuk mendatangkan keselamatan, keunggulan, keberhasilan, dan juga mendatangkan kecelakaan (Sastrawijaya, 1995: 27). Selain memiliki salah satu tujuan di atas, mantra berikut ini berisi pula konsep pengurangan dalam pembelajaran matematika.

Ramo sapuluh jadi ramo salapan jari sepuluh menjadi jari sembilan
ramo salapan jadi ramo dalapan jari sembilan menjadi jari delapan
ramo dalapan jadi ramo tujuh jari delapan menjadi jari tujuh
ramo tujuh jadi ramo genep jari tujuh menjadi jari enam
ramo genep jadi ramo lima jari enam menjadi jari lima
ramo lima jadi ramo opat jari lima menjadi jari empat
ramo opat jadi ramo tilu jari empat menjadi ari tiga
ramo tilu jadi ramo dua jari tiga menjadi jari dua
Puhaci! Puhaci!
puhaci sing jadi hiji Puhaci menjadi satu

(Tamsyah, 1996: 20-21)


Mantra di atas termasuk ke dalam jenis jangjawokan, yaitu jenis mantra yang dipergunakan pada waktu akan melakukan suatu pekerjaan, agar berhasil dan selamat misalnya pada waktu; mau mengambil beras, panen, mau bepergian, mau tidur, duduk, berjalan, ketawa, pergi ke hutan, tempat angker, dan sebagainya. Semuanya bertujuan untuk kebaikan, keberhasilan, keuntungan, dan sebagainya (Sastrawijaya, 1995: 36). Mantra di atas merupakan jangjawokan paranti ngageugeus (mengingat padi yang baru dipanen dalam jumlah tertentu). Pola pengurangan pada jangjawokan tersebut sama dengan syair lagu Anak Ayam Turun Sepuluh. Pola pengurangan pada kedua data tersebut, bila diurutkan berdasarkan bilangan terbesar, akan tampak seperti urutan bilangan di bawah ini. Indikator pencapaian hasil belajar mengurutkan bilangan adalah anak dapat mengurutkan sekelompok bilangan yang berpola teratur dimulai dari bilangan terbesar.

♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠
♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠
♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠
♠♠ ♠♠ ♠♠ ♠
♠♠ ♠
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1


Dalam kaitannya dengan pembelajaran bentuk pengurangan, cerita fabel yang telah di singgung pada bagian sebelumnya, dapat dikembangkan kembali menjadi pokok pembahasan dalam bentuk materi yang berbeda. Misalnya saja pengayaan materi menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan pengurangan, seperti contoh soal di bawah ini:

di atas sebuah pohon, hinggap 2 ekor burung,
1 ekor burung terbang hendak mencari makan,
berapa ekor burung yang tertinggal?


Penyelesaian soal cerita:

diketahui : di atas sebuah pohon, hinggap dua ekor burung,
seekor burung terbang hendak mencari makan,
ditanya : berapa ekor burung yang tertinggal
pengerjaan : pengurangan
penyelesaian : burung yang tertinggal adalah 2 – 1 = 1
jadi burung yang masih hinggap di pohon ada satu (1) ekor.
Pada salah satu kakawihan barudak Sunda (Nyanyian anak-anak Sunda) ditemukan pula pola pengurangan dalam pembelajaran matematika. Kakawihan Eundeuk-eundeukan berisi pola tersebut. Lagu tersebut di samping memiliki makna yang mendalam tentang penggambaran latar sosial dan latar sejarah bangsa Indonesia pada zaman penjajahan, juga mengandung muatan dalam pemerkayaan soal matematika.

Eundeuk-eundeukan lagoni
meunang peucang sahiji
leupas deui ku nini
beunang deui ku aki


(Tamsyah, 1996: 45)
Kakawihan di atas bila dirumuskan akan menghasilkan pola pengurangan dan penjumlahan melalui penyelesaian soal cerita. Kakawihan tersebut menguraikan sistem pengurangan dan penjumlahan yang sangat sederhana. Diawali dengan bilangan kosong, lalu ditambah 1 sehingga menghasilkan penjumlahan 1. Angka 1 dikurngi 1 menghasilkan kembali bilangan kosong. Bilangan kosong ditambah kembali 1 sehingga menghasilkan penjumlahan 1. Melalui kakawihan ini, seorang anak dibekali kemampuan untuk memecahkan soal yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan.

0 + 1 = 1
1 – 1 = 0
0 + 1 = 1

Selain materi pembelajaran matematika yang telah dikemukakan, sebagai akhir dari uraian pembahasan ini, penulis akan mengemukakan satu data yang memiliki perbedaan dengan konsep sebelumnya. Lagu ini merupakan lagu yang tidak asing lagi, baik bagi anak-anak maupun bagi orang dewasa, hampir semua orang mengenalnya dan lancar pula menyanyikanya. Di balik syair yang sederhana dan mudah dimengerti, pada lagu ini terdapat rumus matematika.

Topi saya bundar
bundar topi saya
kalau tidak bundar
bukan topi saya

Sepintas lagu di atas hanya merupakan permainan kata yang diulang-ulang, tetapi permainan kata itu merupakan sebuah rumus yang dapat memecahkan suatu persoalan dalam matematika. Untaian lagu yang mengesankan itu, bila diterjemahkan dalam kalimat matematika dengan menjadikan topi saya menjadi X, dan bundar sebagai Y, akan didapat rumus sebagai berikut:
X = Y
Y = X
Jika # Y
:. bukan X

3.2 Makna Kesastraan dalam Pembelajaran Matematika

Melalui karya sastra, seorang anak yang sedang menuju pertumbuhan ke arah kedewasaan, bukan hanya mendapatkan kebahagian karena anak dapat memperoleh hiburan dari karya sastra yang dibaca atau didengarnya lewat penuturan orang tua, namun anak akan mendapatkan pula pengalaman bersastra sesuai dengan tingkat pemahamannya. Sastra bukan hanya berbicara masalah dunia imajinasi, melainkan sastra menawarkan pula kecerdasan matematika sehingga anak mampu menggunakan logikanya ketika menghadapi persoalan yang dihadapinya.
Lagu-lagu anak bukan sekedar rangkaian syair untuk dilantunkan, tetapi di balik syair lagu, narasi cerita dongeng dan bentuk sastra anak lainnya terdapat materi pembelajaran matematika. Melalui kegiatan bersastra, anak diperkaya pengetahuan matematikanya. Pada akhirnya, anak tidak hanya memperoleh pengalaman bersastra, tetapi juga mampu menggunakan pola berpikir cerdas dalam belajar matematika sehingga akal budinya dapat berkembang dengan sempurna.
Dengan cara menyanyi dan bercerita secara tidak sadar anak sebenarnya telah melakukan pembelajaran matematika. Melalui sastra anak diperkenalkan pada matematika dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, yang tentunya sesuai dengan dunia anak yang penuh dengan canda dan tawa. Anak sebagai sosok manusia kecil yang masih memiliki pengalaman terbatas, belum dapat memahami suatu persoalan yang melibatan pengalaman hidup yang kompleks. Berbagai pengalaman abstrak dan nonverbal sebagaimana yang biasa dialami orang dewasa, belum dapat dijangkau dan dipahami oleh anak. Namun dipihak lain, anak dapat atau lebih siap menerima fantasi daripada orang dewasa. Lagu-lagu dan cerita anak akan memenuhi kebutuhan itu. Fantasi anak akan mudah dan begitu saja menerima cerita anak ayam yang turun sepuluh kemudian mati semua.
Lagu-lagu dan cerita anak yang telah dibahas secara sastra memiliki makna yang dalam bagi pengembangan pengalaman anak. Sebagai sebuah karya sastra yang diperuntukan bagi anak, anak akan menerimanya dengan caranya sendiri berdasarkan pemahman dan pengalaman yang telah dimilikinya. Lagu-lagu anak yang biasa dinyanyikan dengan penuh keceriaan bukan hanya sebuah bentuk nyanyian, melainkan di dalamnya terdapat suatu proses pembelajaran yang mungkin tidak langsung disadari bahwa lagu tersebut sedang mengajarkan anak pada matematika. Pengemasan yang sedemikian rupa sebagai hasil kreativitas seorang pencipta, menjadikan lagu itu lebih berarti bagi kehidupan anak. Melalui lagu anak diajak untuk belajar matematika.



IV. Simpulan
Sastra anak sebagai karya sastra hasil pengolahan pikiran dan perasaan seorang pengarang memberikan sumbangan yang sangat berharga pagi pengembangan jiwa anak. Melalui sastra, anak sebagai sosok yang berproses menuju kedewasaan dapat mengambil pengalaman dari berbagai permasalahan hidup yang tergambar dalam sastra, sekaligus anak belajar dalam memecahkan berbagai persoalan hidup sebagaimana yang dihadapi oleh tokoh-tokoh dalam dunia sastra.
Sastra bukan sekedar karya imajinasi seorang pengarang, namun sastra menawarkan satu bentuk media pembelajaran bagi seorang anak. Melalui lagu-lagu dan cerita, seorang anak dapat melakukan pembelajaran matematika, sehingga anak mampu menggunakan logikanya ketika menghadapi persoalan yang dihadapinya.
Lagu-lagu yang dikhususkan untuk anak tidak hanya mengandung makna kesastraan, melainkan di dalamnya mengandung pula materi matematika yang sangat berharga bagi pemerkayaan berpikir anak. Sastra anak dapat membekali anak berpikir cerdas dalam belajar matematika.
Disampaikan dalam Pekan Ilmiah Dies Unpad tahun 2008.
Dimuat dalam Bunga Rampai Tahun Emas Fakultas Sastra
Penerbit Sastra Unpad Press. 2010


1 komentar:

Husni Ahmad Haikal mengatakan...

mantapp pa taufik,, terima kasih