Rabu, 16 Juni 2010

Makalah Seminar Internasional

IDENTITAS KOLEKTIF MASYARAKAT SUNDA
DALAM CERITA SI BUNGSU TUJUH BERSAUDARA

Oleh: Taufik Ampera



I. PENDAHULUAN

Cerita rakyat merupakan bagian dari tradisi masyarakat yang sekaligus merupakan warisan budaya dan kekayaan bangsa. Cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi masyarakat, memuat konsepsi kebudayaan masyarakat tempatan yang telah berlangsung dalam masa lama dan diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dapat dipastikan setiap suku bangsa memiliki cerita rakyat sebagai sistem proyeksi budaya masyarakat setempat. Namun, tiada seorang pun dapat menyangkal bahwa pada beberapa suku bangsa terdapat tipe cerita yang sama, sebagai akibat terjadinya kontak budaya atau terjadinya persebaran cerita, dalam kaitannya dengan proses perkembangan budaya yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu menuju terbentuknya kemapanan budaya.
Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara merupakan salah satu cerita rakyat yang tersebar di berbagai daerah. Mardiyanto dan Agus Sri Danardana menunjukkan bahwa dalam khazanah sastra nusantara, cerita mengenai Si Bungsu Tujuh Bersaudara dikenal sebagai salah satu cerita rakyat (lisan) yang memiliki banyak versi. Hampir setiap daerah di seluruh kepulauan Indonesia mengenal dan memiliki cerita tentang Si Bungsu Tujuh Bersaudara, meskipun dalam judul yang berbeda satu dengan yang lainnya. Di Jawa Tengah cerita itu lebih dikenal sebagai cerita Si Wuragil, di Jawa Barat Nyi Bungsu Rarang, di Lampung Si Bungsu Tujuh Bersaudara, di Aceh Cerita Si Kecil, di Simalungun Putri Ranting Bunga, di Sambas Tujuh Putri, di Sulawesi Selatan Tattadu, di Gayo Merah Mege, di Riau Si Molek dan Tanara, di Kalimantan Selatan Galuh Ciciri Mulik, di Jambi Si Nam Berenam Bertujuh dengan Putri Bungsu dan Putri Bungsu Bersuamikan Kambing, di Kaili Pinggavea, di Toraja Sadoqdogna, di Bengkulu Putri Anak Tujuh, dan di Sulawesi Sikapitu dan Datangnya Kelapa ke Muka Bumi (1994: 1).
Lebih lanjut Mardiyanto dan Agus Sri Danardana mengungkapkan bahwa biasanya, dalam cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara itu tokoh si bungsu digambarkan sebagai anak yang cerdik, mempunyai kelebihan dari anak sulung atau keenam kakaknya. Selain itu, tokoh si bungsu selalu bernasib baik, apabila menemui kesulitan ia dapat mengatasinya atau ada dewa penolong yang menyelamatkannya. Konflik antara anak bungsu dan anak sulung atau keenam saudaranya pada akhirnya selalu dimenangkan oleh si bungsu. Sudah barang tentu cerita mengenai Si Bungsu Tujuh Bersaudara yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia itu tidak selalu demikian. Setiap daerah mempunyai versi ceritanya masing-masing. Adanya persamaan cerita mengenai Si Bungsu Tujuh Bersaudara antara satu daerah dengan daerah lainnya itu bukanlah tercipta secara kebetulan. Hal itu terjadi karena berbagai sebab, seperti persamaan asal usul, kontak sesamanya, dan kontak dengan cipta sastra dari kebudayaan lain. Sedangkan perbedaan-perbedaan itu terjadi, mungkin, disebabkan oleh proses perkembangan cerita di masing-masing daerah tidak sama (1994: 1-2).
Masayarakat Sunda pun mengenal tipe cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara dengan banyak versi, tentunya dengan judul yang berbeda. Berdasarkan penelusuran data, dapat dikemukakan judul-judul cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara yang dikenal oleh masyarakat Sunda, yaitu Lutung Kasarung, Nyi Bungsu Rarang atau Si Leungli, Budak Hideung ’ Anak Lelaki Berkulit Hitam Legam’, Nyai Arum Tresna Malati, dan Putri Tujuh.
Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara sebagai cerita yang dimiliki masyarakat Sunda merupakan cerita yang kekal sepanjang zama. Cerita Si Bongsu Tujuh Bersaudara tidak terlepas dari masyarakat yang menciptakannya. Dapat dipastikan cerita tersebut adalah pancaran dari masyarakat penciptanya dalam bentuk narasi imajiner. Cerita itu tercipta dari sebuah sistem atau struktur yang diyakini secara budaya. Pancaran masyarakat yang dimiliki suatu cerita dapat dihayati faedahnya. Hasrat ini pastinya dapat dicapai melalui kajian yang mengaitkan cerita tersebut dengan kebudayaan masyarakatnya. Sehubungan itu, kajian ini difokuskan ke atas kajian makna mengenai identitas kolektif masyarakat Sunda yang ada dalam cerita tersebut. Identitas merupakan sifat-sifat atau ciri-ciri yang terdapat pada seseorang atau sesuatu yang sebagai suatu keseluruhan memperkenalkannya atau mengasingkannya dengan yang lain. Identitas merupakan persoalan lama yang menemukan vitalitasnya dan langgam yang berbeda pada masa kini sebagaimana ditegaskan oleh Bauman:

If modern ‘problem of identity’ was how to construct an identity and keep it solid and stable, the postmodern‘problem of identity’ is primarily how to avoid fixation and keep the option open. In the case of identity […] the catchword of modernity was creation; the catchword of postmodernity is recycling. (David McCrone. 1997).

Dengan perspektif baru ini maka dalam identitas terkandung proses perjumpaan dan negosiasi, identitas menolak pemangkiran ataupun pengabaian yang sewenang-wenang terhadap jati diri. Di situ ada pilihan-pilihan tanpa henti. Tidak mungkin lagi merumuskan semacam esensi tetap suatu identitas, sebab identitas lebih sebagai hasil proses kontestasi-sementara terhadap yang lain, bukan suatu fiksasi. Identitas lebih sebagai proses representasi diri berhadapan dengan dan dalam resistensi terhadap representasi pihak yang kuat atas diri komunitas tersebut. Sehingga dapat ditegaskan bahwa persolan identitas bukanlah persoalan roots, melainkan lebih menjadi persoalan routes yang ditempuh komunitas tersebut. Dengan begitu ada pelekatan sementara pada sebentuk wacana (discourse) yang menceritakan identitas tersebut , dan menurut Stuart Hall selanjutnya terjadi proses effective suturing which to be thought as anarticulation and identification. (Engin F. Isin & Patricia K. Wood. 1999). Identitas adalah titik-titik atau jahitan yang tidak baku dari identifikasi yang diciptakan dalam wacana sejarah dan budaya.
Luas diyakini bahwa identitas budaya (dengan sengaja) dibentuk atau di bangun (lihat, misalnya Vickers, 1989; Eriksen 1993; dan Picard 1997) Pandangan yang menggganggap identitas budaya sebagai sesuatu yang dengan sengaja dibangun jelas bertalian dengan seperangkat kepercayaan seputar konsep budaya. Jelasnya, seperti dikatakan oleh Kahn (1995) dan yang lain , kebudayaan lebih bersifat organik dan terbatas ketimbang yang selama ini diklaim orang
Untuk mengungkapkan identitas kolektif dalam cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara pada pembahasan ini, kajian hanya akan dibatasi pada proses individuasi tokoh si bungsu. Proses individuasi, yaitu perwujudan secara berangsur-angsur dari tedensi tiap individu untuk mencapai keutuhan psikis, dimana ketegangan dari perlawanan-perlawanan komplementer dan kompensatoris antara kesadaran dan alam tak sadar di dalam kepribadiannya sendiri dapat didamaikan melalui lambang pemersatu yang integratif dan sudah ada dalam jiwanya sendiri, yaitu arketipe self atau diri (Jung. 1989: 16). Dengan mengungkap permasalahan kajian tersebut memungkinkan dapat diperoleh gambaran jiwa masyarakat Sunda mengenai hubungan adik-beradik dalam budaya Sunda.
Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara memiliki banyak versi, baik berupa versi kebudayaan atau versi pengarang. Sehubungan itu, kajian ini akan diawali dengan mengidentifikasi versi dan merekontruksi versi-versi yang ada, sehingga melalui kajian tersebut memungkinkan dapat diperoleh jenis versi Cerita Si Bungsu Tujuh Bersauda.


II. IDENTITAS KOLEKTIF MASYARAKAT SUNDA DALAM CERITA SI BUNGSU TUJUH BERSAUDARA

2.1 Identifikasi Versi Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara

Pada bagian ini merupakan bahasan mengenai identivikasi versi, yaitu mengidentivikasikan versi ke dalam golongannya; versi kebudayaan atau versi seorang pengarang. Peringkat yang digunakan untuk menentukan hal ini adalah dengan membandingkan isi ceritanya melalui rangkaian peristiwa sehingga dapat ditemukan pola cerita yang standar. Pola cerita yang standar inilah yang disimpulkan sebagai versi suatu kebudayaan atau versi suatu kelompok, sedang variasinya adalah versi seorang pengarang. Untuk menentukan pola yang standar pada setiap cerita dicari indeksnya melalui Type-Index dan Motif-Index. Dari hasil penelusuran pola cerita terhadap data yang dijadikan bahan kajian, dapat dijabarkan pola cerita sebagai berikut.

1. Pola pertama, Cerita Pantun Lutung Kasarung: Protagonis disingkirkan dengan cara diasingkan ke dalam hutan, lalu bertemu dengan penolong. Kehadiran penolong dapat menyelamatkan protagonis (si bungsu) dari upaya licik keenam kakaknya, dari mulai membebani dengan berbagai pekerjaan yang mustahil, hingga upaya untuk membunuhnya. Protagonis pada akhirnya dapat kembali ke istana dan diperistri oleh seorang pangeran.

2. Pola kedua, Cerita Nyi Bungsu Rarang atau Si Leungli: Tokoh protagonis dibebani pekerjaan oleh keenam saudaranya lalu dikucilkan. Ketika tokoh protagonis mencari pekerjaan, bertemu dengan seorang anak yang sedang memancing ikan. Protagonis menerima seekor ikan kecil yang diberikan oleh anak tersebut, lalu ikan itu dipeliharanya hingga besar. Ikan milik protagonis dicuri keeanam saudaranya. Protagonis hanya menemukan tulang dan kepala ikan yang dibuang oleh saudaranya. Tulang ikan dikubur, kemudian tumbuh menjadi sebatang pohon berbuahkan permata. Pohon ajaib itu menarik perhatian pangeran. Protagonis mendapatkan ganjaran diperistri oleh seorang pangeran.

3. Pola ketiga, Cerita Budak Hideung ’Anak Lelaki Berkulit Hitam Legam’: Protagonis dikucilkan oleh keenam saudaranya karena malas dan buruk rupa. Anak lelaki berkulit hitam meminta ibu angkatnya untuk melamar putri di kerajaan. Keenam putri menolak lamaran tersebut. Hanya putri bungsu (protagonis) yang berkenan menerima lamaran anak berkulit hitam. Protagonis dimandikan lalu berubah menjelma menjadi seorang putri yang cantik jelita. Keduanya pergi ke sebuah tempat, lalu anak berkulit hitam itu membantingkan sebuah labu dan menjelmalah sebuah kerajaan, ia pun berubah pula menjadi seorang kesatria tampan rupawan yang bernama Pangeran Danuwarsa. Hiduplah keduanya di kerajaan baru dengan nama Nagara Cihideung Girang.

4. Pola keempat, Cerita Nyi Arum Tresna Malati: Protagonis disakiti oleh keenam saudarnya, lalu disuruh mencuci, tetapi cuciannya hanyut. Ketika mencari cuciannya, protagonis bertemu dengan seorang kakek yang kelaparan. Protagonis memberikan makanan yang dibawanya dari rumah kepada kakek tersebut. Kemudian protagonis mendapat ganjaraan biji-bijian. Biji-bijian itu ditanamnya di atas kuburan ibunya. Kemudian tumbuh pohon ajaib. Pohon ajaib itu menarik perhatian pangeran. Protagonis mendapatkan ganjaran diperistri oleh seorang pangeran.
5. Pola kelima, Cerita Putri Tujuh: Protagonis disakiti oleh keenam saudaranya, kemudian disingkirkan dengan cara diasingkan ke dalam hutan. Protagonis mendapatkan seekor ikan. Raja jatuh sakit, kemudian mengerahkan seluruh rakyat untuk mencari ikan mas sebagai obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Protagonis dapat menyembuhkan raja berkat ikan mas ajaib. Ikan mas menghilang tiada berbekas, lalu muncul seorang kesatria. Protagonis menikah dengan kesatria tersebut.

Setelah mencari pola baku cerita pada kelima versi cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara, menunjukkan bahwa cerita tersebut mempunyai dua tipe cerita, yaitu tipe cerita ”Cinderella” (Aa Th Tipe No. 510) dan tipe cerita ”The Kind and the Unkind Girls” ’ Gadis baik dan jahat’ (Aa Th Tipe No. 480). Motif cerita yang terkandung di dalamnya adalah ”Unpromising heroine” ’tokoh wanita yang tidak ada harapan dalam hidupnya’ (No. L102) (lihat pula Danandjaja, 1991: 98). Motif-motif cerita yang ditemukan dalam cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara mengkonfirmasi hasil penelitian Birgitta Rooth tentang motif-motif lengkap yang ada pada tradisi Melayu dari dongeng Cinderella (periksa Danandjaja, 1991: 100-101). Motif-motif tersebut adalah ”Saudara-saudara perempuan”; ”Saudara perempuan bungsu”; ”Seekor ikan”; ”Tugas mencuci”; ”Pembantaian terhadap binatang itu”; ”Mengubur tulang-tulangnya”; ”Dari sisa-sisa jasatnya timbul sebatang pohon ajaib”; ” Yang dapat menyediakan kekayaan”; dan ”Memetik buah”.
Dengan menguraikan pola cerita pada setiap versi dapat diidentifikasi pola baku cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara. Pola baku adalah pola cerita yang selalu muncul dalam setiap versi. Pola baku tersebut dilacak dari kisahan pokok, yaitu pada alur yang berhubungan langsung dengan temanya, seperti tema perselisihan antarsaudara. Berdasarkan atas kajian pola cerita terhadap data yang ada, maka dapat diidentifikasikan bahwa kelima versi cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara merupakan versi kebudayaan. Pada setiap versi cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara menunjukkan pola yang sama dengan motif-motif cerita yang berasal pada satu tradisi penceritaan.


2.2 Individuasi Tokoh Si Bungsu

Tipe cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara yang tersebar dan dikenal oleh masyarakat Sunda mengisahkan tokoh cerita tujuh bersaudara. Ketujuh bersaudara itu, semuanya merupakan perempuan dengan peran sentral pada anak bungsu. Inti cerita dari ketiga versi tersebut, si bungsu mengalami penderitaan karena keserakahan dan iri dengki saudara-saudaranya. Pada perkembangan cerita, dikisahkan si bungsu dapat mengatasi semua kesulitan yang dihadapinya. Akhirnya si bungsu mendapatkan kebahagiaa. Semua versi cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara yang dikenal pada masyarakat Sunda memperlihatkan persamaan, yaitu adanya persaingan antarsaudara (sibling rivalry). Adanya persaingan antarsaudara, maka isi ceritanya tidak memperlihatkan adanya peranan orang tua, baik orang tua kandung maupun orang tua tiri. Ketidakhadiran seorang ibu lebih mempertegas peran keenam saudaranya dalam pembentukan karakter si bungsu. Dalam cerita tipe seperti ini, keenam saudara si bungsu merupakan simbol sisi negatif seorang kakak, karena dalam kehidupan sehari-hari arti seorang kakak pada umumnya ditekankan hanya pada sisi positifnya sahaja dan sikap semacam ini yang diterima masyarakat. Oleh karena itu, keenam saudara si bungsu mempunyai sifat yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan saudara kandung dalam kenyataan.
Perilaku buruk keenam saudara si bungsu telah menjadikan si bungsu sebagai tokoh yang terisolasi, terbuang, dan terusir. Titik ini merupakan awal perjalanan si bungsu menjadi seorang yang terasing dari lingkungannya. Sebuah bagaian perjalanan menuju individuasi. Si bungsu menjadi simbolisme pada keterpisahan. Si bungsu merupakan gambaran sosok yang tersingkirkan, tidak memiliki orang tua, kehilangan keterkaitan, dan simbol seseorang yang harus bertahan hidup tanpa perawatan atau perhatian. Namun demikian, si bungsu dapat menjadi mandiri karena mengalami sisi negatif dari keenam saudaranya; jadi sejatinya keenam saudaranya itu telah memajukan perkembangan psikologis si bungsu. Dengan kata lain, makna cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara dalam budaya Sunda bahwa sisi negatif yang diperlihatkan oleh seorang kakak kepada adik bungsunya berguna untuk pertumbuhan jiwa menuju proses kedewasaan. Bila seorang kakak hanya memperlihatkan sisi baiknya, maka anak bungsu dapat menghadapi kesulitan dalam proses kedewasaan. Perlakuan buruk keenam saudaranya merupakan proses menuju pendewasaan si bungsu untuk mencapai identitas pribadi dan mencapai realisasi yang lebih tinggi.
Untuk mencapai semua itu, si bungsu harus bekerja keras dan mengalami perlakuan buruk dari keenam saudaranya. Perlakuan buruk itu, merupakan dorongan bagi si bungsu untuk menjadi ulet, mengembangkan kemandirian dan ketabahan hati hingga pada akhirnya si bungsu memperoleh kebahagiaan, penderitaan adalah bagian dari proses menjadi mandiri dan dewasa. Sedangkan keenam saudaranya yang selalu memperlakukan si bungsu dengan semena-mena, tidak memperoleh kebahagian seperti yang didapatkan si bungsu. Apa yang muncul dalam diri si bungsu adalah energi fisik baru. Dunia yang mengidentifikasikan dengan imaji si bungsu menitik pada pembentukan arketip baru mengenai seorang anak perempuan yang terpisah dari lingkungannya, yang terlukai oleh sejumlah pengalaman akibat persaingan saudara-saudaranya, serta seorang anak yang memiliki skala emosi manusiawi dan nilai-nilai yang diyakini untuk menunutunnya pada hal-hal yang benar.
Tokoh Si Bungsu Tujuh Bersaudara yang terdapat dalam budaya Sunda semuanya merupakan perempuan. Hal ini mencerminkan kebudayaan kosmologi Sunda lama dalam hubungannya dengan azas lelaki dan perempuan. Pada cerita pantun Lutung Kasarung penuh dengan gambaran Dunia Atas, bahkan uraian tentang pohaci amat rinci. Seperti kita ketahui, bahwa peranan Sunan Ambu sebagai ”eksekutif” Dunia Atas cukup jelas. Dunia atas berazas perempuan dan dunia manusia berazas lelaki. Lutung Kasarung penuh ajaran tentang berhuma, menyimpan padi, menumbuk padi, dan memasaknya. Pekerjaan-pekerjaan tersebut adalah tugas perempuan. Inilah sebabnya, pantun Lutung Kasarung menampilkan seluruh anak Prabu Tapa Agung perempuan semua.
Dalam cerita Nyi Bungsu Rarang atau Si Leungli digambarkan pula aktivitas perempuan dalam menumbuk padi, memasak serta tata cara merawat rumah. Begitu pula halnya dalam cerita Nyai Arum Tresna Malati digambarkan pula aktivitas mencuci pakaian yang dilakukan oleh si bungsu, Nyai Arum Tresna Malati. Dalam cerita Budak Hideung digambarkan pula keenam putri bersaudara, kecuali si bungsu meninun kain. Semua itu menggambarkan pekerjaan yang bersifat domistik yang dapat dilakukan oleh perempuan. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan perempuan mempresentasikan bahwa perempuan Sunda memiliki kemampuan yang tinggi dalam melaksanakan peran dan fungsinya dalam kehidupan berumah tangga.
Perselisihan si sulung melawan si bungsu, Purbararang dengan Purbasari, keenam saudara adik-beradik dengan Nyi Bungsi Rarang, keenam saudara adik-beradik dengan Nyi Putri Arum Sari, dan keenam saudara adik-beradik dengan Nyai Arum Tresna Malati menggambarkan dualisme kosmologi, yakni keperempuan dan kelelakian, dalam-luar, kakak-adik. Purbararang atau anak sulung dalam tipe cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara, dalam kategori kosmologi Sunda dapat dibaca sebagai pihak lelaki, pihak luar, pihak aktif, kering, ayah, depan. Sedangkan Purbasari dapat dibaca sebagai pihak perempuan, pasif, dalam, basah, ibu, belakang. Dualisme antagonistik itu saling bertentangan dan mengalahkan. Si sulung ingin mengalahkan si bungsu. Lelaki mengalahkan perempuan.
Kenyataaan bahwa dalam suatu lingkungan selalu ada karakter-karakter baik dan jahat, bahkan dalam diri individu pun terdapat sisi jahat dan sisi baik. Pada kisah ini, baik dan buruk bukan sebuah kontinum yang harus saling dibenturkan, tetapi merupakan hal-hala dimensional dalam kehidupan yang justru harus diintegrasikan. Dalam perspektif Jungian, proses ini menggambarkan individuasi, proses mencapai keutuhan diri sendiri.
Si bungsu tumbuh sebagai anak yang hidup dalam nuansa kesendirian dan selalau dirundung penderitaan, seperti halnya banyak anak yatim piatu dan anak-anak lainnya yang teralienasi. Si bungsu juga memimpikan datangnya seorang pahlawan yang akan menyelematkan dan membawanya keluar dari penderitaan. Dalam perjalanan cerita, si bungsu menemukan bahwa dirinya dapat berbicara dengan ikan di kolam, membuatnya makin merasa tidak nyaman tinggal dalam dunia manusia normal. Kehidupan Si Bungsu sebagai yatim piatu, banyak dihabiskan dalam kesendirian dan penderitaan. Si bungsu merupakan orang yang disingkirkan dalam keluarga. Marie-Luise Von Franz, dalam The Interpretatations of Fairy Tales, menjelaskan bahwa dalam konteks arketipal, “gambaran sosok yang ditinggalkan” lebih merupakan suatu kedalaman makna, simbolisme bahwa sosok Tuhan baru dicari serta ditemukan di kedalaman sudut bawah sadar dari psike dan ketika orang merasa tidak dipedulikan.


2.3 Inisiasi Sebagai Proses Menunju Manusia Spiritual
Cerita Lutung Kasarung sebagai versi cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara, menceritakan pembentukan mandala vertikal dalam diri tokoh utamanya Purbasari Ayu Wangi. Proses menjadi ”orang suci” atau ”manusia sempurna” yang menyatu dengan dunia atas merupakan alur ceritanya. Peristiwa pembuangan Purbasari oleh kakaknya ke dalam hutan merupakan penderitaan yang harus diterima dengan sabar. Purbasari meskipun masih amat remaja, telah mencapai pemahaman hakikat hidup, yakni bahwa kemuliaan dan kehinaan, kekayaaan dan kemiskinan, sehat dan sakit, suka dan duka, keduanya harus diterima sama. Purbasari menerima hinaan kakaknya itu sebagai anugrah dunia atas juga. Purbararang adalah simbolisasi manusia yang membiarakan diri dikuasai kekuatan jahat, yang haus kekuasaan.

Pembuangan Guru Minda ke dunia manusia merupakan hukuman atas perbuatannya melirik dengan birahi waktu menghadapi Sunan Ambu, sang ibu. Kalau kita bandingkan dengan pembuangan Purbasari, justru Purbasari tak melakukan kesalahan apapun. Dunia atas dibuang atas kesalahannya sendiri, sedangkan dunia manusia dibuang atas kesalahan orang lain. Ini semakin menunjukkan kualitas Purbasari yang sedang mengalami proses sebagai manusi spiritual. Keduanya dibuang ke hutan, wilayah bukan manusia, wilayah ambang, antara dunia manusia dengan dunia para hyang.

Hutan adalah simbol arketipal dari alam bawah sadar; sesuatu yang misterius, rahasia, fertilitas, pertumbuhan, dan insting primitif. Dalam cerita Lutung Kasarung, Purbasari dibuang ke huta. Semua itu adalah gambaran inner self yang sedang menjalani suatu tuntutan sebagai bagian tugas individuasi. Ada keberanian yang harus ditumbuhkan untuk menghadapi bahaya yang sewaktu-waktu muncul dan bisa jadi belum pernah diketahui sebelumnya. Di dalam ranah hutan ini, tidak ada sosok ayah atau ibu yang melindungi sang anak. Si anak harus melakukan trial and error sendirian untuk dapat tumbuh.

Begitu pula halnya dengan tokoh Nyi Bungsu Rarang, Nyai Arum Tresna Malati, dan Nyi Putri Arum Sari merupakan tokoh-tokoh yang mengalami keterasingan dan penderitaan. Ketiga tokoh si bungsu tersebut sedang mengalami proses sebagai manusia spiritual. Proses inisiasi yang dialami si bungsu merupakan perjalanan yang harus dilalui dalam kaitannya untuk menjadi manusia spiritual. Hal ini merupakan aspek penting dalam kaitannya dengan fungsi ritual adalah liminalitas. Liminalitas adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami keadaan ambigu yaitu, keadaan neither here nor there (tidak di sini dan juga tidak di sana). Berarti individu sedang masuk ke tahap betwixt (di tengah-tengah) dan between (antara). Pengalaman liminal ini membuat si bungsu sadar diri, sadar akan eksistensinya. Pada tahap liminal ini, si bungsu tengah menjalani ritus inisiasi menuju manusia spiritual, sedang melakukan refleksi diri. Si bungsu dalam proses inisiasinya telah atau sedang meninggalkan masa tertentu tetapi juga sedang memasuki masa tertentu pula.

2.4 Identitas Kolektif Masyarakat Sunda

Berdasarkan kajian proses individuasi tokoh si bungsu dalam tipe cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara pada bahasan berikut ini akan diuraikan identitas kolektif masyarakat Sunda. Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara dalam sastra Sunda merupakan cerita yang mendekontruksi mitos yang berkembang sebelumnya terhadap pandangan anak bungsu. Anak bungsu memiliki citra sebagai anak yang manja, malas, dan tidak dapat hidup mandiri. Melalui cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara masyarakat Sunda merekontruksi pencitraan si bungsu sehingga anak bungsu memiliki pencitraan yang berlainan. Si bungsu memiliki identitas baru sebagai seseorang yang memiliki identitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan keenam saudaranya. Proses inisiasi yang dialami si bungsu merupakan perjalanan yang harus dilalui dalam kaitannya dengan pencapaian identitas baru sebagai manusia spiritual.

Si bungsu merupakan simbolisme seorang anak yang kehilangan arketipe persaudaraan (archetype of comradeship). Relasi kakak beradik berpusat pada suatu daya tarik sentral kepedihan. Relasi kakak beradik dalam cerita tersebut menggantikan ketidakhadiran orang tua, baik orang tua kandung maupun orang tua tiri. Berbeda dengan tipe cerita lainnya, tipe cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara tidak menghadirkan tokoh orang tua. Ketidakhadiran orang tua lebih menegaskan proses individuasi si bungsu dan pembentukan identitas ketika si bungsu berada pada tahap krisis identitas akibat adanya persaingan antarsaudara. Kawai mengatakan bahwa banyak gadis remaja pada masa pubertas menjadi kritis atau meremehkan dan malahan membenci ibunya serta meragukan apakah ia benar ibu kandungnya. Hanya melalui periode ini seorang gadis menjadi tidak tergantung pada ibunya. Hal ini, dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa tokoh protagonis, anak perempuan tiri dalam banyak cerita rakyat menikah dan berbahagia. Dalam cerita rakyat tokoh ibu tiri adalah simbol dari sisi negatif seorang ibu, karena dalam kehidupan sehari-hari arti keibuan pada umumnya ditekannkan hanya pada sisi positifnya saja dan sikap semacam ini yang diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, ibu tiri dalam cerita rakyat mempunyai sifat yang jauh lebih buruk daripada ibu tiri dalam kenyataan (Kawai, 1988: 69).

Selanjutnya, Kawai menyatakan bahwa seorang wanita dapat menjadi mandiri karena mengalami sisi negatif dari keibuan; jadi ibu tiri memajukan perkembangan psikologis anak perempuan. Dengan kata lain, makna cerita rakyat bertema anak tiri adalah bahwa seorang ibu harus memperlihatkan sisi negatifnya kepada anak perempuannya untuk pertumbuhannya. Bila seorang ibu hanya memperlihatkan sisi baiknya, maka anak perempuan dapat menghadapi kesulitan dalam proses kedewasaannya (1988: 137).

Penafsiran Kawai ini selaras dengan penafsiran Bettelheim yang mengatakan bahwa dalam kehidupan seorang anak dia harus mengalami menjadi ”Cinderella” untuk mencapai identitas pribadi dan mencapai realisasi diri yang lebih tinggi. Dengan mengambil contoh protagonis Cinderella yang harus bekerja keras dan mengalami perlakuan buruk ini justru merupakan dorongan bagi tokoh untuk menjadi ulet, mengembangkan inisiatifnya dan ketabahan hati. Sedangkan saudara tiri Cinderella yang selalu mendapat perlakuan baik dari ibunya sepanjang cerita, tidak mencapai apapun dalah hidupnya dan tidak mengembangkan kepribadiannya sendiri karena harus selalu mendapatkan atau diberi petunjuk oleh ibunya (1977: 273-276). Peran ibu tiri atau ibu kandung pada cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara digantikan oleh keenam saudara kandungnya. Keenam saudaranya kandungnya yang sebenarnya andil dalam pembentukan identitas si bungsu menuju manusia spiritual.

Tokoh Si Bungsu Tujuh Bersaudara yang terdapat dalam budaya Sunda semuanya merupakan perempuan. Sosok perempuan yang ditampilkan pada cerita tersebut ialah perempuan yang mampu mencapai keutuhan diri sendiri, yaitu perempuan yang memiliki kemampuan tinggi dalam melaksanakan peran dan fungsinya dalam kehidupan. Penampilan perempuan dalam cerita itu terkait dengan sistem proyeksi masyarakat Sunda bahwa perempuan Sunda harus memiliki identitas yang memancarkan keutuhan diri sendiri.



III. SIMPULAN

Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara merupakan produk budaya masyarakat Sunda yang menggambarkan penderitaan anak bungsu, sosok yang tersingkirkan, kehilangan keterkaitan, dan simbol seseorang yang harus bertahan hidup tanpa perhatian. Melalui proses individasi, pada akhirnya si bungsu mampu mencapai identitas baru. Si bungsu menemukan identitas dirinya karena mengalami sisi negatif dari keenam saudaranya, keenam saudaranya itu telah memajukan perkembangan psikologis si bungsu.

Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara membangkitkan hal-hal arkais yang berhubungan dengan ketidaksadaran kolektif dan keliaran imajinasi masyarakat Sunda sebagai pemilik cerita itu. Cerita Si Bungsu Tujuh Bersaudara menawarkan penyadaraan akan nilai-nilai kehidupan.
* Disampaikan pada Simposium Kebudayaan
Indonesia - Malaysia XI Tahun 2009.

Tidak ada komentar: